6 Jun 2011

UMAR BIN ABDUL AZIZ (kisah pertama)

"Khalifah yang Memanfaatkan Kekuasaannya untuk Meraih Surga"
Kehidupan khalifah Umar bin Abdul Aziz penuh dengan keteladanan yang sangat pantas untuk dicontoh.
Seorang penyair yang masyhur, Dukain bin Sa’id Ad-Darimi bercerita, “Ketika menjadi gubernur di Madinah, beliau pernah memberiku hadiah 15 ekor unta pilihan, aku terkagum-kagum melihat-nya, sampai ada rasa khawatir mem-bawanya pulang ke desaku tetapi untuk menjualnya pun aku merasa sayang.
Pada saat itu, ada sekelompok orang yang mau kembali ke kampungku di Najad, maka aku pun ikut rombongan mereka.

Mereka berkata, “Kami berang-kat malam ini, maka bersiaplah.”
Aku segera menjumpai Umar bin Abdul Aziz untuk berpamitan yang saat itu sedang ada dua orang tamu yang tidak aku kenal. Ketika hendak pulang, guber-nur Madinah itu berkata kepadaku,
“Wahai Dukain, aku punya cita-cita yang besar. Jika engkau mendengar aku lebih jaya daripada keadaanku sekarang, datanglah, aku akan memberikanmu hadiah.”
Aku langsung berkata, “Datangkanlah saksi atas perkataan Anda itu.”
Beliau berkata, “Allah sebagai saksi-nya dan Dia sebaik-baik saksi.”
Aku ber-kata lagi, “Saya ingin saksi dari makhluk-Nya.”
Beliau berkata, “Baiklah, kedua orang ini saksinya.”
Aku menghampiri kedua orang itu dan bertanya kepada salah satunya, “Siapa-kah Anda?”
Orang itu menjawab, “Saya, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khath-thab.”
Lantas aku menoleh kepada Umar bin Abdul Aziz dan berkata, “Saya setuju dan mempercayai orang ini sebagai saksi.”
Kemudian aku bertanya kepada orang yang satunya lagi, “Siapakah Anda?”
Dia menjawab, “Abu Yahya, pembantu amir.”
Aku berkata, “Saksi ini dari keluarga Anda, saya setuju.”
Kemudian aku pamit sambil membawa unta-unta itu ke kampung halamanku. Allah member-kahinya sehingga berkembang banyak sampai aku bisa membeli unta-unta dan budak yang lebih banyak.
Suatu hari, ketika aku sedang berada di gurun Falaj Yamamah, tiba-tiba datang khabar tentang wafatnya Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik. Aku bertanya kepada pembawa berita tersebut,
“Siapakah pengganti khalifah?”
Dia menjawab, “Umar bin Abdul Aziz.”
Setelah mendengar berita tersebut, aku segera berangkat ke Syam. Di Damaskus aku bertemu dengan Jarir yang baru kembali dari tempat khalifah. Aku ucap-kan salam kepadanya, lalu bertanya,
“Dari manakah engkau, wahai Abu Hazrah?”
Dia menjawab, “Dari tempat khalifah yang pemurah kepada fakir miskin dan menolak para penyair. Sebaiknya Anda pulang saja karena itu lebih baik bagi Anda” (karena aku seorang penyair).
Aku katakan, “Saya punya kepentingan pribadi yang berbeda dengan kepen-tingan Anda semua.” Dia menjawab, “Jika demikian, terserah Anda.”
Aku terus menuju ke tempat khalifah. Ternyata beliau sedang berada di seram-bi rumahnya sedang dikerumuni anak-anak yatim, para janda dan orang-orang yang terdzalimi. Ketika aku merasa tidak bisa menerobos kerumunan itu, akupun mengangkat suara:
“Wahai Umar yang bijak dan dermawan Aku orang Qathn dari suku Darim, menagih hutang Anda yang dermawan.”
Ketika itu Abu Yahya memperhati-kanku, kemudian ia menoleh kepada Amirul Mukminin seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah saksi dari orang dusun ini.”
Beliau berkata, “Aku tahu itu.”
Beliau menoleh kepadaku dan berkata, “Mendekatlah kemari, wahai Dukain.”
Setelah aku berada di hadapannya, beliau berkata lagi, “Ingatkah engkau kata-kataku sewaktu di Madinah? Bahwa aku punya ambisi besar dan menginginkan hal yang lebih besar dari apa yang sudah aku miliki.”
Aku berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.”
“Sekarang aku telah mendapatkan yang tertinggi di dunia, yaitu kerajaan. Maka hatiku menginginkan sesuatu yang tertinggi di akhirat, yaitu jannah dan ridha Allah swt. Bila para raja menggunakan kerajaannya sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia, maka aku menjadikannya sebagai jalan untuk men-capai kejayaan di akhirat. Wahai Dukain, aku tidak pernah menggelapkan harta muslimin walaupun satu dinar atau satu dirham sejak berkuasa di sini. Yang aku miliki tidak lebih dari 1.000 dirham saja. Engkau boleh mengambil separuhnya.”
Maka aku mengambilnya. Demi Allah, belum pernah aku memiliki uang yang lebih berkah dari pemberian itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar