4 Mei 2011

Sekapur Sirih


Assalamu’alaikum nie buat semua…
Puji dan Syukur mari sama-sama selalu kita sanjung sajikan kehadirat  Allah swt. yang telah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya bentuk dan dianugerahkan akal yang sangat tiada terhitung harganya.
Salawat beserta salam kita sampaikan kepada seorang pemuda yang tak pernah putus asa dalam berjuang.

Walaupun halang rintang sebesar gunung uhud, Beliau tetap menghadapinya dengan tetap semangat. Beliau adalah Nabi utusan Allah, Muhammad saw.

Hidup memang penuh lika-liku kehidupan yang gersang dan hambar. Tapi dibalik semua itu banyak kisah yang terpendam di dalamnya, baik itu sebuah permulaan yang pahit, perjuangan yang berat, kesedihan, terharu, senang, yang selalu berakhir dengan sebuah dilema yang sangat menggugah dan dramatis.

Masa-masa yang telah berlalu bagaikan lembaran-lembaran buku yang terus terhempas angin waktu. Tak pernah berhenti menuliskan kisah-kisah yang sangat berharga bagi pemiliknya.

Kisah yang akan terkenang sepanjang masa tanpa ada yang bisa menghapusnya. Lembaran-lembaran ini akan menjadi saksi perjalanan kita di dunia ini, dan akan menjadi guru yang paling bijaksana dalam mengiring kita melangkah ke depan dengan harapan yang pasti.

Ribuan kisah yang telah berlalu, dan tak akan pernah kembali walau sedetikpun….

Sebagaimana kata-kata bijak seorang guru dan ulama besar kepada murid-muridnya :
“Tahukah kamu apa yang paling dekat dengan kita ?”
“Dia adalah maut, di setiap keluar masuknya napas kita”.
“Tahukah kamu apa yang paling jauh dengan kita ?”
“Dia adalah masa lalu, yang tak pernah bisa direka ulang walau hanya sedetik”

Blog “Kemilau Aneuk Nanggroe “ ini merupakan sebuah inspirasi dari pemiliknya untuk mencurahkan pengalaman-pengalaman yang berharga dan juga sebagai sebuah media ilmu yang insyaAllah akan bermanfaat bagi pembaca. Memang tidak begitu indah di pandang mata, dan tidak begitu menyentuh jika sekilas dilihat.

Maklum pemilik blog ini bukanlah seorang seniman dan tidak juga pandai dalam merangkai kata-kata mutiara nan indah seperti para pujangga-pujangga cinta melantunkannya. Blog ini tidak lebih dari media belajar bagi saya untuk mulai belajar menulis dan menunaikan sebuah amanah agama untuk saling berbagi ilmu dalam kebaikan.

Sebagai sebuah perkenalan dengan pemilik blog Kemilau Aneuk Naggroe ini. Saya seorang pelajar yang sedang menuntut ilmu di negeri kinanah yang merupakan pusat perdaban Islam zaman dahulu, yaitu mesir. Asal dari sebuah pelosok desa di kota Meulaboh, yang dikenal dengan nama Seuneubok. Tidak terlalu popular sich, tapi sangat membanggakan.

Menempuh pendidikan pertama di sebuah taman kanak-kanak di kota tersebut, kemudian melanjutkan ke Min Drien Rampak MBO-1. Pernah menjadi siswa di MTsN Model kota tersebut. Sampai menjadi Alumni Ruhul Islam, Mata Ie. Itulah jembatan perantauan yang membawa saya sampai sekarang.

Rasa terima kasih kepada kedua orangtua saya yang telah banyak memberikan motivasi dalam menjalani kehidupan ini dan telah merawat serta memelihara anaknya ini sebagaimana tanggung jawab yang di amanahkan Allah kepada mereka, buat guru-guruku yang tak pernah terhitung berapa banyak ilmu yang telah dilimpahkannya kepada kami semasa sekolah, semoga menjadi sedeqah jariyah di akhirat nanti. Buat orang-orang tersayang yang pernah ada dalam perjalanan hidupku, yang selalu memberikan semangat dan senyuman kebahagiaan. Dan sebuah penghargaan bagiku bisa mempunyai teman-teman seperjuangan yang tidak akan pernah bisa dijangkau nilainya.

“Sahabat adalah Penyejuk disaat dahaga”

Wassalam….

Read more...

" H E I "

Cairo, 19 march 2011
by Ibn Arabi (Ziyaush Shabri)

Hei...

Dia menyapaku...
Menghampiriku...
Bersalaman dan tersenyum kepadaku...

Sungguh pesona nan indah...
Wajahnya yang anggun...
Bibirnya manis tersenyum...
Mengalirkan berjuta-juta molekul kehidupan...
Meredupkan teriknya amarah...

Aku bertanya...
Siapakah dia ?
Apa gerangan yang terjadi padaku ?

Dunia bagaikan menelanku hidup-hidup...
Melepasku kedalam halusinasi...
Yang aku sendiri tak mengetahuinya...

Oh... Tidak...
Rembulan redup tak menampakkan sinarnya...
Rumput-rumput rebah tak menampakkan keceriaannya...

Apa yang terjadi ?
Aku tidak bisa melupakannya...
Saat itu...
Pertemuan itu...
Di persimpangan harapan...
Dia yang menyapaku...
Tak kan pernah bisa ku lupa...
Aku tak tahu...
Apakah ini sebuah rasa atau hanya nafsu belaka...
Tapi, dia telah menggoreskan penanya di dadaku...

Malam...
Jadikanlah ini hanya mimpi belaka...
Yang menjadi bunga indah di tidurku...
Read more...

LEGENDA DAN MITOS TENTANG NAMA ACEH

Aceh : Legenda dan Mitos tentang nama Aceh
Posted by Aceh On 08:51
Aceh adalah nama sebuah Bangsa yang mendiami ujung paling utara pulau sumatera yang terletak di antara samudera hindia dan selat malaka.

Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda dan mitos , sebuah bangsa yang sudah dikenal dunia internasional sejak berdirinya kerajaan poli di Aceh Pidie dan mencapai puncak kejayaan dan masa keemasan pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam di masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda hingga berakhirnya kesulthanan Aceh pada tahun 1903 di masa Sulthan Muhammad Daud Syah.

Dan walau dalam masa 42 tahun sejak 1903 s/d 1945 Aceh tanpa pemimpin, Aceh tetap berdiri dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya dari tangan Belanda dan Jepang yang dipimpin oleh para bangsawan, hulubalang dan para pahlawan Aceh seperti Tgk Umar, Cut Nyak Dhien dan lain-lain dan juga Aceh mempunyai andil yang sangat besar dalam mempertahankan Nusantara ini dengan pengorbanan rakyat dan harta benda yang sudah tak terhitung nilainya hingga Aceh bergabung dengan Indonesia karena kedunguan dan kegoblokan Daud Beureueh yang termakan oleh janji manis dan air mata buaya Soekarno.

Banyak sekali tentang mitos tentang nama Aceh, Berikut beberapa mitos tentang nama Aceh yang dirangkum dari berbagai catatan lama seperti yang saya kutip dari Web Forum Plasa.


1. Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk.


Sepeti dikutip oleh H.M.Said catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh.


2. Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh (Terjemahan Teuku Hamid, 1982/1983) menyebutkan bahwa berita-berita tentang Aceh sebelum abad ke-16 Masehi dan mengenai asal-usul pembentukan Kerajaan Aceh sangat bersimpang-siur dan terpencar-pencar.


3. HM. Zainuddin (1961) dalam bukunya Tarich Aceh dan Nusantara, menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk dalam rumpun bangsa Melayu, yaitu; Mantee (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain sebagainya, yang berasal dari negeri Perak dan Pahang di tanah Semenanjung Melayu.


Semua bangsa tersebut erat hubungannya dengan bangsa Phonesia dari Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, India. Bangsa Mante di Aceh awalnya mendiami Aceh Besar, khususnya di Kampung Seumileuk, yang juga disebut Gampong Rumoh Dua Blah.


Letak kampung tersebut di atas Seulimum, antara Jantho dan Tangse. Seumileuk artinya dataran yang luas. Bangsa Mante inilah yang terus berkembang menjadi penduduk Aceh Lhee Sagoe (di Aceh Besar) yang kemudian ikut berpindah ke tempat-tempat lainnya.


Sesudah tahun 400 Masehi, orang mulai menyebut ”Aceh” dengan sebutan Rami atau Ramni. Orang-orang dari Tiongkok menyebutnya lan li, lanwu li, nam wu li, dan nan poli yang nama sebenarnya menurut bahasa Aceh adalah Lam Muri.Sementara orang Melayu menyebutnya Lam Bri (Lamiri). Dalam catatan Gerini, nama Lambri adalah pengganti dari Rambri (Negeri Rama) yang terletak di Arakan (antara India Belakang dan Birma), yang merupakan perubahan dari sebutan Rama Bar atau Rama Bari.


4. Rouffaer, salah seorang penulis sejarah, menyatakan kata al Ramni atau al Rami diduga merupakan lafal yang salah dari kata-kata Ramana. Setelah kedatangan orang portugis mereka lebih suka menyebut orang Aceh dengan Acehm.


5. Sementara orang Arab menyebutnya Asji. Penulis-penulis Perancis menyebut nama Aceh dengan Acehm, Acin, Acheh ; orang-orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin. Orang-orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh. Orang Aceh sendiri, kala itu menyebutnya Atjeh.


6. Informasi tentang asal-muasal nama Aceh memang banyak ragamnya. Dalam versi lain, asal-usul nama Aceh lebih banyak diceritakan dalam mythe, cerita-cerita lama, mirip dongeng. Di antaranya, dikisahkan zaman dahulu, sebuah kapal Gujarat (India) berlayar ke Aceh dan tiba di Sungai Tjidaih (baca: ceudaih yang bermakna cantik, kini disebut Krueng Aceh).Para anak buah kapal (ABK) itu pun kemudian naik ke darat menuju Kampung Pande.


Namun, dalam perjalanan tiba-tiba mereka kehujanan dan berteduh di bawah sebuah pohon. Mereka memuji kerindangan pohon itu dengan sebutan, Aca, Aca, Aca, yang artinya indah, indah, indah. Menurut Hoesein Djajadiningrat, pohon itu bernama bak si aceh-aceh di Kampung Pande (dahulu), Meunasah Kandang. Dari kata Aca itulah lahir nama Aceh.


7. Dalam versi lain diceritakan tentang perjalanan Budha ke Indo China dan kepulauan Melayu. Ketika sang budiman itu sampai di perairan Aceh, ia melihat cahaya aneka warna di atas sebuah gunung. Ia pun berseru “Acchera Vaata Bho” (baca: Acaram Bata Bho, alangkah indahnya). Dari kata itulah lahir nama Aceh. Yang dimaksud dengan gunung cahaya tadi adalah ujung batu putih dekat Pasai.


8. Dalam cerita lain disebutkan, ada dua orang kakak beradik sedang mandi di sungai. Sang adik sedang hamil. Tiba-tiba hanyut sebuah rakit pohon pisang. Di atasnya tergeletak sesuatu yang bergerak-gerak. Kedua putri itu lalu berenang dan mengambilnya. Ternyata yang bergerak itu adalah seorang bayi.


Sang kakak berkata pada adiknya “Berikan ia padaku karena kamu sudah mengandung dan aku belum.” Permintaan itu pun dikabulkan oleh sang adik.


Sang kakak lalu membawa pulang bayi itu ke rumahnya. Dan, ia pun berdiam diri di atas balai-balai yang di bawahnya terdapat perapian (madeueng) selama 44 hari, layaknya orang yang baru melahirkan. Ketika bayi itu diturunkan dari rumah, seisi kampung menjadi heran dan mengatakan: adoe nyang mume, a nyang ceh (Maksudnya si adik yang hamil, tapi si kakak yang melahirkan).


9. Mitos lainnya menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang anak raja yang sedang berlayar, dengan suatu sebab kapalnya karam. Ia terdampar ke tepi pantai, di bawah sebatang pohon yang oleh penduduk setempat dinamai pohon aceh. Nama pohon itulah yang kemudian ditabalkan menjadi nama Aceh.


10. Talson menceritakan, pada suatu masa seorang puteri Hindu hilang, lari dari negerinya, tetapi abangnya kemudian menemukannya kembali di Aceh. Ia mengatakan kepada penduduk di sana bahwa puteri itu aji, yang artinya ”adik”. Sejak itulah putri itu diangkat menjadi pemimpin mereka, dan nama aji dijadikan sebagai nama daerah, yang kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi Aceh.


11. Mitos lainnya yang hidup di kalangan rakyat Aceh, menyebutkan istilah Aceh berasal dari sebuah kejadian, yaitu istri raja yang sedang hamil, lalu melahirkan. Oleh penduduk saat itu disebut ka ceh yang artinya telah lahir. Dan, dari sinilah asal kata Aceh.


12. Kisah lainnya menceritakan tentang karakter bangsa Aceh yang tidak mudah pecah. Hal ini diterjemahkan dari rangkaian kata a yang artinya tidak, dan ceh yang artinya pecah. Jadi, kata aceh bermakna tidak pecah.


13. Di kalangan peneliti sejarah dan antropologi, asal-usul bangsa Aceh adalah dari suku Mantir (Mantee, bahasa Aceh) yang hidup di rimba raya Aceh. Suku ini mempunyai ciri-ciri dan postur tubuh yang agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. Diduga suku Manteu ini mempunyai kaitan dengan suku bangsa Mantera di Malaka, bagian dari bangsa Khmer dari Hindia Belakang.


Semoga bermamfaat untuk menambah wawasan kita tentang Aceh yang merupakan sebuah negeri yang unik dalam sejarah sepanjang Abad.

Read more...

Hafsah binti Umar

Sepenggal Kisah Shahabat radhiyallah 'anha.
Oleh: Ziyaush shabri

إنها صوامة قؤامة وهي زوجتك في الجنة
"Dia seorang yang teguh pendirian dan merupakan istrimu di surga"
Dengan Hafsah binti Umar kita semakin dekat mencium keharuman setangkai bunga dari taman keluarga umar. Bersama Ummul Mukminin kita menelusuri bunga yang dilimpahkan kepadanya kemuliaan dan keutamaan yang menakjubkan Ummul Mukminin untuk mengatakan atau mensifatkan dengan kata-kata seorang Hafsah binti Umar r.a..


1.      Keluarga Hafsah
Ayahnya seorang Faruq umat ini. Seorang yang sederhana, dermawan, sangat adil, dan begitu penyayang. Dia seorang yang mulia di tanah jazirah Arab, penyebar agama Islam, ahli ibadah yang wara', memancarkan sebuah tekad dengan ibadahnya, memiliki kecerdasan, aktif. Seorang guru yang banyak membenarkan pemahaman hidup, membungkusnya dengan kebesaran dan kekaguman akhlak serta tingkah laku, dan menjadi pemimpin bagi orang-orang bertaqwa.


Dia memberikan seluruh suri tauladan bagi manusia tanpa habisnya, tauladan yang dilaksanakan dalam kekuasaannya menjadi keberkatan dunia yang di ambang pintunya dipenuhi dengan ghanimah dan segala kebaikan.


Seorang yang banyak diturunkan al-Quran sesuai dengan pendapat dan perkataannya. Seorang yang mengislamkan diri dengan terbuka, menjadi penolong dengan hijrahnya, dan adil dalam pemerintahannya. Dialah al-Faruq umat yang bertaubat "Umar bin Khatab".
Ibu Hafsah r.a. Zainab binti Madh'un saudara perempuan sahabat mulia Usman bin Madh'un r.a. yang sebelum wafat Rasulullah SAW datang kepadanya dan menciumnya sampai-sampai  air mata Nabi mengalir di pipi Usman. Orang pertama yang dikuburkan di Baqi', dan sebelum wafat anak perempuan Rasulullah SAW, Rasul berkata kepadanya : 'Susullah pendahulu kami yang murah hati Usman bin Madh'un'.


Paman Hafsah r.a. Zaid bin Khattab yang menyaksikan perang badar dan syahid di perang Yamamah. Dia seorang yang dikatakan Umar r.a. : 'Dia telah mendahului diriku dalam dua kebaikan, telah Islam sebelum diriku dan syahid sebelumku'. Dan Umar juga berkata : 'Tidak pernah tumpul mata pedangku melainkan mengingatkanku kepada Zaid bin Khattab'.
Bibinya Fatimah binti Khattab salah seorang yang pertama masuk islam dan suaminya Sa'id bin Zaid salah seorang dari sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.


Saudara laki-laki Hafsah orang yang ahli ibadah, zuhud, wara', dan alim "Abdullah bin Umar" yang dikatakan Rasul SAW : 'Sesungguhnya Abdullah adalah lelaki shalih'.


Ummul mukminin Aisyah r.a. berkata : 'Tidak aku melihat seorangpun yang sangat dekat dengan sunnah melainkan Ibn Umar'.


2.      Keberkahan Hidup Hafsah binti Umar
Hafsah binti Umar lahir ketika kaum Quraisy memperbaiki bangunan ka'bah, yaitu lima tahun sebelum kenabian Nabi SAW. Ketika Nabi melerai pertikaian di antara kaum Quraisy dalam meletakkan hajar aswad di tempatnya dengan hikmah dan pendapat yang tepat dan menyelesaikan perkara ini dengan penuh kecerdasan.


Hafsah r.a. sangat mencintai ilmu dan sastra. Dia mempelajari tulisan-tulisan dari seorang yang menyembuhkan anak perempuan Abdullah al-Qarsyiah al-'Adawiyah. Hafsah r.a. senantiasa menuntut ilmu sampai menjadi seorang perempuan yang fasih di kalangan kaum Quraisy.


Belum sempurna kedewasaan Hafsah binti Umar r.a. datang kepadanya salah seorang dari golongan yang pertama masuk Islam Khunais bin Hudzafah r.a. saudara Abdullah bin Hudzafah r.a.. Menikahlah Hafsah dengan Khunais dan hidup bersama, penuh kebahagiaan dalam naungan iman dan keta'atan. Khunais menyatakan keislamannya di tangan Abu Bakar Shiddiq r.a..


Begitu dahsyat siksaan kaum musyrikin kepada sahabat Nabi SAW, maka Nabi menyeru kepada para sahabat untuk hijrah ke bumi Habsyah. Khunais merupakan salah seorang yang hijrah ke Habsyah. Melihat keburukan dan siksaan yang bertambah dari hari ke hari, ia kembali ke Makkah dan mengajak Hafsah r.a. berhijrah ke negeri Yastrib (Madinah al Munawwarah) sesudah diizinkan oleh Habibi SAW untuk berhijrah ke Madinah. Dan di sana Suami-istri ini hidup dalam kebaikan kaum Anshar. Bertambah kebahagiaan mereka dengan hijrahnya Nabi SAW ke Madinah. Demi Allah begitu indahnya kehidupan bersama Rasulullah SAW.  


Ketika perang Badar yang dijanjikan Allah pertolongan dan kemuliaan kepada kaum muslimin terjadi. Khunais r.a. tergolong dari pahlawan yang gagah berani di perang tersebut sangat menginginkan dan berharap dari lubuk hati yang paling dalam menjadi seorang syuhada.


Dalam perang tersebut, Khunais mendapat banyak luka di tubuhnya dalam berperang menegakkan Kalimatillah dan menurunkan kalimat-kalimat kaum kafir. Setelah berakhirnya perang, Khunais kembali ke Madinah dengan dipenuhi bekas luka.


Sahabat mulia ini wafat dalam mengorbankan dirinya demi Allah dan memperoleh kebesaran pekerti. Dan Nabi SAW mensalatkannya dan menguburkannya di Baqi' berdekatan dengan kuburan sahabat mulia Usman bin Madh'un.


Beginilah sedihnya perpisahan. Hafsah r.a. menjadi seorang janda di tahun yang sangat cepat dan menangis atas syahidnya Khunais dengan kesedihan yang begitu menyayat hatinya, tapi Hafsah bahagia karena suaminya syahid dalam kemuliaan sampai luka-lukanya menjadi saksi perjuangan di jalan Allah.


Umar merasa sedih terhadap anak perempuannya yang masih muda telah menjadi seorang janda di umur 18 tahun. Dia merasa sakit melihat masa muda anaknya menjadi janda, dan merasakan kesedihan setiap masuk ke rumahnya melihat anak perempuannya dalam kesedihan. Terlintas dalam pikiran Umar setelah lama bepikir untuk mencari suami untuk Hafsah.


Umar mengutarakan maksudnya kepada Abu Bakar, dan tidak mendapatkan jawaban apapun. Dan umar pun mengutarakannya kepada Usman.


Dan Usman berkata, "Terlintas di pikiranku untuk tidak menikah di masa ini".


Dan umar pun mengadu kepada Rasulullah SAW, dan berkata:
"Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Usman, dan Usman akan menikah dengan yang lebih baik dari Hafsah" dan Nabi mengkhitbahnya. Maka Umar menikahkannya dengan rasul.


Rasulullah SAW menikahkan Usman dengan anak perempuannya Ummu Kalsum setelah wafat saudara perempuannya Ruqayyah.


Sebelum Umar menikahkan Hafsah, Abu Bakar menjumpai Umar dan meminta maaf seraya berkata, "Bukanlah untukku, seseungguhnya Rasulullah telah mengatakan kepadaku tentang Hafsah, dan aku tidak ingin membuka rahasia. Jikalau Rasul meninggalkannya, sungguh aku akan menikahinya".


Rasulullah menikahi Hafsah pada tahun ke-3 H sebelum perang Uhud dengan mahar 400 dirham. Itu semua sebagai kebesaran, kemuliaan, dan pemberian terbaik bagi Hafsah dan ayahnya (radhiyallahu 'anhuma).


Hafsaf r.a. mendapatkan tempat yang tinggi di hati Nabi SAW serta tempat yang mulia di antara istri Nabi. Sehingga Aisyah r.a berkata : "Dia (Hafsah) sama sepertiku dari Istri-istri Nabi SAW".


Bahwasanya kehidupan istri-istri Nabi SAW (radhiyallahu 'anhunna) bersih dari kecemburuan. Tidak ada terlintas dalam pikiran hal yang menimbulkan kecemburuan, dan nafsu semata ataupun yang menyerupai keduanya. Ini semua karena Nabi SAW menjaga hal ini dengan tarbiyah ilahiyah bersama istri-istrinya di rumah, para sahabat, dan umatnya. Menghilangkan semua kerusakan ke arah yang lebih baik.


Hari-hari yang indah kehidupan Hafsah bersama Nabi SAW, yang mana setiap hari bertambahnya ilmu, pemahamannya serta ketaatannya kepada Allah SWT. Walau ketika Rasul sakit, tidak menghilangkan kesungguhan, kebahagiaan, dan kesenangan terhadap Rasul SAW. Setiap detiknya Hafsah berada di dekat Nabi dan menjadikannya semakin dekat dengan Allah SWT, yang dipelajarinya dari Rasulullah setiap ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Pada suatu hari Rasulullah SAW menceraikan Hafsah r.a. menjadikan hatinya hancur dan segalanya gelap di matanya dengan ketidakpercayaannya bahwa suaminya, kekasihnya, dan Nabinya telah menceraikannya. Dan turunlah al Amin Jibril dengan perintah dari Allah SWT kepada Nabi SAW untuk merujuk dan kembali kepadanya.


Maka Rasulullah merujuk kembali Hafsah dengan perintah Jibril. Dan Jibril berkata : " Dia seorang yang teguh pendirian dan merupakan istrimu di surga"

3.      Kecerdasan Hafsah r.a.
Hafsah dikenal akan ilmu, faqih, dan ketaqwaannya. Ini merupakan sifat yang menjadikannya tempat mulia di sisi Rasulullah SAW, sampai pada masa Khilafaur Rasyidin, dan khusus pada masa kekhilafahan ayahnya. Dan banyak pendapat dan hukum fikih yang dipulangkan kepadanya.
Salah satu pertanyaan yang ditanyakan : "berapa lama seorang perempuan mampu sabar ditinggalkan suaminya ? maka berkata Hafsah r.a. : "Enam atau empat bulan".


Ummul mukminin Hafsah merupakan tempat banyak para sahabat berpulang dalam hal hadis nabawi dan ibadah. Dan Abu Bakar as Shiddiq memilih Hafsah dari para istri Nabi SAW untuk menjaga al Qur'an yang telah dikumpulkannya.


Hilanglah semua kebahagiaan di rumah yang penuh berkah ketika datang hari dimana Rasulullah SAW wafat. Hafsah menahan kesedihannya di dalam hati atas wafatnya seorang yang merupakan suami dan kekasihnya, serta nabinya. Hafsah menjadi seorang ahli ibadah di masanya.


Hafsah hidup dalam kezuhudannya mendekatkan diri kepada Allah SWT hari demi hari dengan memperbanyak puasa dan qiyamul lail. Karena dia tahu bahwa kekuasaan ayahnya tidak bermanfaat apapun baginya melainkan amalan shalih yang cukup bermanfaat di sisi Allah SWT.


Ummul mukminin Hafsah r.a memikul amanah Al Quran di atas pundaknya yang merupakan pilihan Abu Bakar untuk menjaga Al Quran yang telah dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit di sisinya, sampai pada masa Usman bin Affan r.a. kumpulan lembaran-lembaran Al Quran yang ada padanya dikumpulkan dalam satu mushaf.


4.      Akhir Perjalanan Hidup Hafsah r.a.
Belum genap sepuluh hari di bulan sya'ban tahun ke-41 Hijrah Nabawiyah, terdengar berita bahwasanya Ummul Mukminin Hafsah telah menghadap Allah 'azza wa jalla menyusul kekasihnya Rasulullah SAW. Dan tersiar kabar ke seluruh penjuru kota Madinah akan wafatnya penjaga al Qur'an; istri Nabi SAW. Para sahabat mengusung jenazahnya, yang diantara mereka Abu Hurairah r.a. dan Abu Said al Khudri r.a., dishalatkan oleh Marwan bin Hakam yang menjabat sebagai gubernur Madinah, dan dimakamkan di Baqi'. Dan yang menurunkan jenazah ke liang lahat saudaranya Abdullah, 'Ashim, dan ketiga anak Saudaranya Abdullah bin Umar yaitu Salim, Abdullah, dan Hamzah. Saat meninggal dia berusia 63 tahun, dan mewasiatkan harta-hartanya untuk sedekah.


Beginilah perjalanan Ummul Mukminin Hafsah r.a. yang telah menempuh hidup begitu panjang dengan ibadah, usaha, dan pengorbanan. Berangkat menyusul suami, kekasih sekaligus Nabinya di surga. Dan dia lah yang dimaksudkan oleh Jibril pada Nabi SAW :

 إنها صوامة قؤامة وهي زوجتك في الجنة
 "Dia seorang yang teguh pendirian dan merupakan istrimu di surga"
Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya pendamping Rasulullah SAW di surga.


[1]  Dipresentasikan pada tgl 2 Agustus 2010 dalam kajian sahabat Rasulullah di Matareya.
     Sumber: Shahabiyat Haula Rasulullah SAW, Karya Mahmud al Misri, Cetakan maktabah al Shafa; 2005 M.

Read more...

"UNTUKMU"

Yang Menjadi Idaman
Karya : ibn Arabi *


Untukmu...
Yang menjadi idaman
Engkau laksana rembulan
Yang menjadi penerang di kegelapan
Menempati singgasana khayalan
Jauh dari genggaman

Jiwamu umpama matahari
Yang mempunyai bara tak pernah mati
Membentuk keteguhan sejati
Dalam setiap diri insani

Untukmu...
Yang menjadi idaman
Di kala mendayu nyanyian alam
Menemani hidup di kesunyian malam
Memberi semangat dari hidup yang kelam
Membuka jalan dengan penuh keselamatan



Keteguhanmu dalam menjaga diri
Memberikan makna di dalam hati
Untuk mengharap ridha Ilahi
Dari Rabbi yang Maha Tinggi


Untukmu...
Yang menjadi idaman


Ayat-ayat suci yang engkau lantunkan
Lafadz-lafadz cinta yang kau bawakan
Alunan kasih sayang yang kau sandungkan
Bagaikan taman berjuta warna
Menjadi obat dalam duka
Memberikan kesejukan di dalam dada


Untukmu...
Yang menjadi idaman
Begitu besar makna kehidupan
Yang telah engkau berikan
Membuat hidupku menjadi mapan
Dalam meraih tujuan
Mengungkap tabir masa depan


Tetesan air mata di pipimu
Dalam memunajatkan do'a kasihmu
Menjadi derap-derap tasbih
 Dalam setiap detikan hatiku
Tidak ada kata yang ku ucapkan
Melainkan puisi ini ku tuliskan


Untukmu yang menjadi idaman
Dalam setiap kehidupan


*Tingkat 1
 Fakultas Lughah Arabiah Ammah
 Universitas Al Azhar


Read more...

UMAR BIN ABDUL AZIZ (Kisah kedua)

Diceritakan oleh seorang Qadhi Maushil Yahya Al-Ghassani, sebagai berikut:

Suatu hari Umar bin Abdul Aziz ber-keliling di pasar Homsh untuk meninjau situasi perdagangan dan mengamati harga-harga. Mendadak seorang ber-pakaian merah menghadang di depannya seraya berkata,

“Wahai Amirul Muk-minin, saya mendengar berita bahwa barangsiapa mempunyai keluhan, dia boleh mengadukannya kepada Amirul Mukminin secara langsung.”


Beliau menjawab, “Benar.”


Orang itu berkata, “Di hadapan Anda telah ada seorang yang teraniaya dan jauh dari rumah-nya.”


Khalifah bertanya, “Di manakah keluargamu?”


Dia menjawab, “Di Aden.”


Khalifah berkata, “Demi Allah, rumah-mu benar-benar jauh dari rumah Umar.”


Khalifah segera turun dari kudanya dan berdiri di hadapannya, lalu bertanya, “Apa keluhanmu?”


Dia berkata, “Barang milik ku diambil oleh orang yang mengaku sebagai pegawai Anda.”




Umar bin Abdul Aziz segera menulis surat kepada gubernurnya di Aden, Urwah bin Muhammad, yang berisi, “Jika suratku telah sampai kepadamu, maka dengarkanlah keterangan dari pembawa surat ini. Bila terbukti dia memiliki hak, segera kembalikanlah haknya.” Surat tersebut beliau stempel kemudian diserahkan kepada orang itu.
Ketika orang itu hendak pergi, Umar berkata, 
“Tunggu sebentar, engkau datang dari tempat yang sangat jauh, pasti telah mengeluarkan biaya banyak untuk perjalanan ini. Mungkin baju barumu menjadi usang atau kendaraan-mu mati di jalan,” kemudian beliau menghitung seluruhnya hingga men-capai sekitar sebelas dinar, lalu beliau berikan sebagai ganti rugi kepada orang itu sambil berpesan, 
“Beritahukan kepada orang-orang supaya tidak segan-segan melapor dan mengadu kepadaku meski-pun rumah mereka jauh.”
Read more...

UMAR BIN ABDUL AZIZ (kisah pertama)

"Khalifah yang Memanfaatkan Kekuasaannya untuk Meraih Surga"
Kehidupan khalifah Umar bin Abdul Aziz penuh dengan keteladanan yang sangat pantas untuk dicontoh.

Seorang penyair yang masyhur, Dukain bin Sa’id Ad-Darimi bercerita, “Ketika  menjadi gubernur di Madinah, beliau pernah memberiku hadiah 15 ekor unta pilihan, aku terkagum-kagum melihat-nya, sampai ada rasa khawatir mem-bawanya pulang ke desaku tetapi untuk menjualnya pun aku merasa sayang.

Pada saat itu, ada sekelompok orang yang mau kembali ke kampungku di Najad, maka aku pun ikut rombongan mereka.


Mereka berkata, “Kami berang-kat malam ini, maka bersiaplah.”
Aku segera menjumpai Umar bin Abdul Aziz untuk berpamitan yang saat itu sedang ada dua orang tamu yang tidak aku kenal. Ketika hendak pulang, guber-nur Madinah itu berkata kepadaku,
“Wahai Dukain, aku punya cita-cita yang besar. Jika engkau mendengar aku lebih jaya daripada keadaanku sekarang, datanglah, aku akan memberikanmu hadiah.”


Aku langsung berkata, “Datangkanlah saksi atas perkataan Anda itu.”


Beliau berkata, “Allah sebagai saksi-nya dan Dia sebaik-baik saksi.”


Aku ber-kata lagi, “Saya ingin saksi dari makhluk-Nya.”


Beliau berkata, “Baiklah, kedua orang ini saksinya.”


Aku menghampiri kedua orang itu dan bertanya kepada salah satunya, “Siapa-kah Anda?”


Orang itu menjawab, “Saya, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khath-thab.”


Lantas aku menoleh kepada Umar bin Abdul Aziz dan berkata, “Saya setuju dan mempercayai orang ini sebagai saksi.”


Kemudian aku bertanya kepada orang yang satunya lagi, “Siapakah Anda?”


Dia menjawab, “Abu Yahya, pembantu amir.”


Aku berkata, “Saksi ini dari keluarga Anda, saya setuju.”


Kemudian aku pamit sambil membawa unta-unta itu ke kampung halamanku. Allah member-kahinya sehingga berkembang banyak sampai aku bisa membeli unta-unta dan budak yang lebih banyak.


Suatu hari, ketika aku sedang berada di gurun Falaj Yamamah, tiba-tiba datang khabar tentang wafatnya Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik. Aku bertanya kepada pembawa berita tersebut,


“Siapakah pengganti khalifah?”


Dia menjawab, “Umar bin Abdul Aziz.”


Setelah mendengar berita tersebut, aku segera berangkat ke Syam. Di Damaskus aku bertemu dengan Jarir yang baru kembali dari tempat khalifah. Aku ucap-kan salam kepadanya, lalu bertanya,


“Dari manakah engkau, wahai Abu Hazrah?”


Dia menjawab, “Dari tempat khalifah yang pemurah kepada fakir miskin dan menolak para penyair. Sebaiknya Anda pulang saja karena itu lebih baik bagi Anda” (karena aku seorang penyair).


Aku katakan, “Saya punya kepentingan pribadi yang berbeda dengan kepen-tingan Anda semua.” Dia menjawab, “Jika demikian, terserah Anda.”


Aku terus menuju ke tempat khalifah. Ternyata beliau sedang berada di seram-bi rumahnya sedang dikerumuni anak-anak yatim, para janda dan orang-orang yang terdzalimi. Ketika aku merasa tidak bisa menerobos kerumunan itu, akupun mengangkat suara:
“Wahai Umar yang bijak dan dermawan Aku orang Qathn dari suku Darim, menagih hutang Anda yang dermawan.”


Ketika itu Abu Yahya memperhati-kanku, kemudian ia menoleh kepada Amirul Mukminin seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah saksi dari orang dusun ini.”


Beliau berkata, “Aku tahu itu.”


Beliau menoleh kepadaku dan berkata, “Mendekatlah kemari, wahai Dukain.”


Setelah aku berada di hadapannya, beliau berkata lagi, “Ingatkah engkau kata-kataku sewaktu di Madinah? Bahwa aku punya ambisi besar dan menginginkan hal yang lebih besar dari apa yang sudah aku miliki.”


Aku berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.”


“Sekarang aku telah mendapatkan yang tertinggi di dunia, yaitu kerajaan. Maka hatiku menginginkan sesuatu yang tertinggi di akhirat, yaitu jannah dan ridha Allah swt. Bila para raja menggunakan kerajaannya sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia, maka aku menjadikannya sebagai jalan untuk men-capai kejayaan di akhirat. Wahai Dukain, aku tidak pernah menggelapkan harta muslimin walaupun satu dinar atau satu dirham sejak berkuasa di sini. Yang aku miliki tidak lebih dari 1.000 dirham saja. Engkau boleh mengambil separuhnya.”
Maka aku mengambilnya. Demi Allah, belum pernah aku memiliki uang yang lebih berkah dari pemberian itu.

Read more...